KabarJawa.com – Tradisi Jawa kembali hadir kuat di jantung Kota Yogyakarta. Aroma bunga setaman memenuhi ruang Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Kamis (13/11), ketika Pemerintah Kota Yogyakarta menggulirkan inovasi yang memadukan budaya adiluhung dengan upaya mengatasi stunting.
Tradisi Mitoni—ritual turun-temurun untuk mendoakan keselamatan ibu dan janin saat usia kandungan tujuh bulan—diangkat sebagai medium edukasi kesehatan dalam program Pendampingan dan Fasilitasi bagi Ibu Hamil dan Pasca Salin melalui Kearifan Budaya Lokal.
Pemerintah Kota Yogyakarta memilih cara berbeda dan cenderung out of the box untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Alih-alih seminar dan penyampaian pesan kesehatan yang kerap kurang dipahami, Pemkot menghadirkan prosesi budaya yang dekat dengan kehidupan warga.
Langkah ini menjadi wajah baru Yogyakarta dalam perang melawan stunting: kembali pada budaya sebagai kekuatan utama.
Wakil Wali Kota Wawan Harmawan: “Mitoni ini bisa jadi kekuatan besar untuk edukasi dan pariwisata”
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir dan memberikan apresiasi kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB).
Ia menilai edukasi gizi dan kehamilan melalui kemasan budaya lokal mampu menyentuh masyarakat secara lebih langsung.
“Kegiatan seperti ini seharusnya bisa menjadi lebih besar. Selain menjadi sarana edukasi, prosesi Mitoni ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya,” ujar Wawan.
Ia menambahkan bahwa prosesi ini bukan hanya tontonan, namun juga tuntunan. Tradisi Mitoni mampu menghadirkan masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikan ritual sembari menyerap pesan penting soal penanganan stunting.
Wawan menekankan perlunya perubahan pola pikir. Menurutnya, stunting tidak hanya terkait gizi, tetapi kesiapan calon orang tua sejak pranikah.
“Kalau orang yang akan menikah sudah punya kesadaran untuk mempersiapkan kehidupan dengan baik, saya yakin stunting tidak akan terjadi di Yogyakarta. Tapi pendekatannya harus berbeda, harus out of the box,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan stunting tidak bisa ditangani satu pihak. Semua perangkat daerah, kader, dan tenaga kesehatan perlu bergerak bersama.
“Teman-teman OPD di kota ini sudah kompak. Tinggal bagaimana kita menjahit semua kekuatan itu jadi satu power, supaya pengendalian stunting benar-benar terukur dan terasa dampaknya,” tambahnya.
Wawan Ikut Terjun dalam Prosesi: Meracik Air Tujuh Sumur untuk Sang Calon Bayi
Pada momen tersebut, Wawan tidak hanya memberi sambutan. Ia turut memimpin prosesi pencampuran air dari tujuh sumur.
Dengan suasana khidmat, Wawan menyiramkan air tersebut kepada ibu hamil sebagai simbol keselamatan dan harapan masa depan.
Ritual ini menciptakan suasana sakral dan menarik perhatian peserta. Banyak warga menyaksikan bagaimana seorang pemimpin daerah terlibat langsung dalam tradisi yang menghubungkan spiritualitas dan kesehatan.
Data Stunting Kota Yogyakarta Turun Drastis: Dari 14,8 Persen menjadi 9,7 Persen
Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, memaparkan capaian penurunan angka stunting. Data survei Kemenkes tahun 2024 mencatat angka 14,8 persen, sementara data e-PPGBM per Oktober 2025 menunjukkan penurunan menjadi 9,7 persen.
“Kegiatan ini mengintegrasikan nilai-nilai budaya Mitoni dengan edukasi kesehatan ibu dan anak. Kami memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam percepatan penurunan stunting,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kehamilan merupakan periode emas untuk mencegah stunting. Status gizi ibu berpengaruh langsung pada tumbuh kembang janin. Pendampingan dari masa pranikah hingga pasca persalinan menjadi penting.
Mitoni sebagai Media Edukasi Gizi: “Tumpeng dan Rujak itu penuh pesan kesehatan”
Retnaningtyas menambahkan bahwa edukasi lebih mudah diterima jika disampaikan dengan cara yang menarik. Mitoni dipilih karena kedekatannya dengan nilai keluarga, kesiapan mental, dan kesehatan ibu hamil.
“Kalau edukasi hanya lewat selebaran atau media sosial, kadang kurang menarik. Mitoni mengajarkan bagaimana ibu hamil harus dijaga kesehatannya dan mendapat dukungan keluarga,” jelasnya.
Ada 495 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kota Yogyakarta yang aktif mendampingi calon pengantin, ibu hamil, hingga balita. Dengan kolaborasi lintas sektor, target angka stunting di bawah lima persen terus dikejar.
Makna Gizi dalam Simbol-simbol Mitoni
dr. Fauzan Achmad Maliki menjelaskan sejumlah simbol gizi dalam prosesi Mitoni:
- Tumpeng berisi sayuran dan protein sebagai lambang gizi seimbang.
- Rujak buah menjadi pengingat pentingnya konsumsi vitamin dan serat.
- Dawet melambangkan doa kelancaran dan rasa syukur, serta selaras dengan makna ketenangan bagi ibu hamil.
“Gizi seimbang itu esensial. Ibu hamil harus mengonsumsi karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Selain itu wajib mengonsumsi tablet tambah darah karena anemia menjadi salah satu penyebab stunting,” ujar dr. Fauzan.
Ia menutup dengan bahwa tradisi dan kesehatan dapat berjalan berdampingan dalam menyiapkan generasi yang sehat.
Hiburan
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Lifestyle
