Salat Iduladha di Gumuk Pasir Parangtritis, Rasakan Nuansa Tanah Suci Sekaligus Berwisata


Salat Iduladha di Gumuk Pasir Parangtritis/Foto: ef linangkung

KABARJAWA — Sekitar empat ribu jamaah memadati kawasan wisata Gumuk Pasir Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/6/2025) pagi. Mereka mengikuti pelaksanaan salat Iduladha yang digelar oleh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Parangtritis.

Sejak pukul 05.30 WIB, gelombang jamaah mulai berdatangan dari berbagai daerah. Mereka datang tidak hanya untuk melaksanakan ibadah salat Id, tetapi juga merasakan pengalaman unik salat di padang pasir yang atmosfernya menyerupai suasana Tanah Suci Mekkah.

Alasan Jamaah

Salah satu jamaah, Trisna (37), warga Patuk, Gunungkidul, mengaku sengaja datang jauh-jauh menempuh perjalanan sekitar 60 kilometer menuju lokasi. Ia tertarik mengikuti sholat di tengah hamparan pasir Gumuk Parangtritis karena suasananya mengingatkan pada ibadah haji di Arab Saudi.

“Saya berangkat habis subuh. Biar bisa dapat tempat parkir dan posisi salat yang nyaman,” ujar Trisna.

Tak hanya Trisna, ribuan jamaah lainnya juga terlihat membawa keluarga dan anak-anak, menjadikan momen Idul Adha ini sebagai bagian dari wisata religi sekaligus rekreasi keluarga.

Salat Iduladha dipimpin oleh Ustaz Arif Wahid Nugroho sebagai imam, dengan khutbah disampaikan oleh Dr. Takdir Ali Mukti, M.Si. Selama prosesi ibadah berlangsung, jamaah tampak khusyuk meskipun berada di ruang terbuka.

Ketua penyelenggara kegiatan, Nurjoko, menyampaikan bahwa jumlah jamaah tahun ini mencapai sekitar 4.000 orang. Ia juga mengungkapkan bahwa infak yang terkumpul dari jamaah mencapai Rp18 juta.

“Alhamdulillah, antusiasme luar biasa. Kami bersyukur kegiatan berjalan lancar dan penuh hikmah,” ungkap Nurjoko.

Khutbah Salat Iduladha di Gumuk Pasir Parangtritis

Dalam khutbahnya, Dr. Takdir menyoroti fenomena sosial modern yang disebut Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal dari tren atau pengalaman sosial. Ia mengaitkan fenomena ini dengan tantangan besar dalam menjaga rasa syukur di tengah era digital yang serba cepat.

Takdir mengutip Surah An-Nahl ayat 18, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurutnya, rasa syukur kini menjadi hal yang langka karena masyarakat kian sulit merasa cukup atas apa yang dimilikinya. Kecenderungan membandingkan diri lewat media sosial memicu kegelisahan dan menurunkan kualitas hidup serta kesehatan mental.

Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 64% generasi muda mengalami tekanan psikologis karena FOMO. Hal ini memicu perilaku konsumtif yang tidak sehat, di mana orang membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan untuk tidak tertinggal tren.

“Kita tidak lagi bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Ini berbahaya. Padahal, kunci kebahagiaan adalah merasa cukup dan bersyukur,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk ibadah terbaik adalah menahan diri dari nafsu konsumtif dan membangun spiritualitas yang ikhlas dalam menjalani hidup.

Gumuk Pasir Parangtritis merupakan salah satu dari hanya dua gumuk pasir bertipe barchan di dunia. Keunikannya menjadikan lokasi ini tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga cocok untuk kegiatan religius bernuansa alam.

Penyelenggara berharap kegiatan salat Iduladha seperti ini bisa menjadi agenda rutin tahunan yang menggabungkan spiritualitas dan pelestarian budaya lokal. (ef linangkung)



Hiburan

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Lifestyle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *