KabarJawa.com – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kembali memperkuat upaya ketahanan air dan pangan melalui pengembangan embung.
Selain mempersiapkan pembangunan Embung Sriti dan Embung Ngruno, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep pengembangan kawasan di Embung Talunombo yang berada di puncak bukit Sidomulyo. Rangkaian rencana ini terlihat dalam survey lapangan gabungan yang dilakukan di tiga titik berbeda.
Survey tersebut melibatkan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), Badan Perencanaan dan Inovasi Daerah (Bapperida), serta Dinas Pertanian dan Pangan (Dipertapa) Kulon Progo. Kepala DPUPKP, Didik Wijanarto, memimpin tim sumber daya air.
Sementara Kepala Bapperida, Ir. Muh. Aris Nugroho, dan Kepala Dipertapa, Ir. Trenggono Trimulyo, memimpin tim masing-masing.
Survey Lapangan Mengawali Rencana Dua Embung Baru
Survey dimulai dari calon lokasi Embung Ngruno di Padukuhan Ngruno, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Pengasih. Area yang telah dibebaskan dan dipasangi patok tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai penampung air hujan dan suplesi irigasi.
Didik Wijanarto menjelaskan bahwa survey dilakukan untuk memperkuat persiapan pengusulan pembangunan Embung Ngruno dan Embung Sriti. Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan kelayakan teknis dua embung yang akan diusulkan, sekaligus mengkaji kawasan Embung Talunombo.
“Rencananya untuk pengembangan hortikultura melalui Dana Keistimewaan,” ujarnya.
Warga sejak awal mengusulkan pembangunan embung di Ngruno untuk mendukung budidaya perikanan. Meski debit Kali Linseng menurun pada musim kemarau, aliran air tidak pernah berhenti, sehingga dinilai memungkinkan mendukung kebutuhan pertanian.
Rekomendasi Bapperida menguatkan potensi tersebut. Berdasarkan analisis kontur, Embung Ngruno berpeluang mengairi sawah di sebelah barat RSUD Wates yang berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak.
Ada pula peluang pembukaan sawah baru di Cekelan, Kopat, dan Karangsari, meski lokasi padat penduduk sehingga masih memerlukan kajian lanjutan dari Dipertapa.
Embung Sriti Menyimpan Potensi Meski Akses Masih Terbatas
Survey dilanjutkan ke calon lokasi Embung Sriti di Padukuhan Girinyono, Kalurahan Sendangsari. Medan licin seusai hujan membuat tim tidak turun ke titik terendah, namun pengamatan dari atas area memberikan gambaran awal.
Bapperida merekomendasikan segera melengkapi persyaratan administratif seperti Readiness Criteria (RC), denah saluran distribusi, dan dokumen teknis lainnya agar pengusulan dapat kembali diproses. Embung ini dinilai strategis karena berada di kawasan pertanian yang membutuhkan suplai air tambahan.
Embung Talunombo, Embung Puncak Bukit dengan Potensi Pengembangan Kawasan
Setelah meninjau dua calon lokasi embung baru, rombongan bergerak menuju Embung Talunombo atau Embung Puspo Ardi di Padukuhan Talunombo, Kalurahan Sidomulyo.
Embung ini berada di lokasi tidak biasa: bukan di badan sungai seperti Embung Bogor, Batur, Krapyak, dan Dlingseng, melainkan di puncak bukit yang mengandalkan curah hujan serta suplai pipa dari Daerah Irigasi Sumitro dan Kiskendo.
Bidang Sumber Daya Air DPUPKP menangani operasi dan pemeliharaan embung tersebut. Tahun ini, Embung Talunombo mendapat rehabilitasi berupa perbaikan geomembran, perbaikan jalan inspeksi, hingga perbaikan railing. Tim juga melakukan babat semak serta pengangkatan sedimen dan gulma untuk menjaga daya tampung dan kualitas air.
Embung juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan setelah dilakukan penebaran ikan nila. Keberadaan Rumah Bambu sumbangan Kagama UGM menjadikan area tersebut pusat aktivitas warga untuk berbagai acara.
Dipertapa Usulkan Pengembangan Hortikultura di Talunombo
Melihat potensi yang ada, Dipertapa mengusulkan pengembangan kawasan hortikultura di Embung Talunombo. Dengan dukungan air dari embung, tanaman seperti durian, kelengkeng, dan alpukat dinilai bisa tumbuh optimal.
Jika berjalan, warga dapat memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan kawasan produktif. Aktivitas pertanian, perikanan, dan wisata edukasi diperkirakan ikut berkembang, sekaligus menguatkan ketahanan pangan wilayah.
“Pengembangan kawasan embung sangat memungkinkan asalkan mematuhi aturan dan tidak mengubah fungsi utama embung,” kata Trenggono Trimulyo.
Hiburan
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Lifestyle
