Hanya Ada Dua Pos Damkar Gunungkidul, Kabupaten Terluas di DIY Berpacu dengan Risiko Kebakaran Lahan


Pos Damkar Gunungkidul/Foto: bpbd.gunungkidulkab.go.id

KabarJawa.com– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul melalui UPT Pemadam Kebakaran gencar melakukan Sosialisasi dan Simulasi Penanggulangan Kebakaran.

Kegiatan hadir sebagai respons atas ancaman nyata yang semakin membayangi salah satu kabupaten terluas di DIY tersebut.

Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, memaparkan kondisi yang sebenarnya cukup memprihatinkan.

Pos Damkar Gunungkidul

Dengan bentang wilayah mencapai 46 persen dari total luas DIY dan dominasi kawasan hutan seluas 16.787,15 hektare, Gunungkidul berdiri sebagai wilayah dengan potensi kebakaran hutan dan lahan tertinggi, terutama saat kemarau panjang mempercepat proses pengeringan vegetasi.

Ia menjelaskan bahwa Gunungkidul terus mencatat peningkatan kasus kebakaran setiap tahun, tetapi fasilitas utama untuk melakukan penanggulangan masih sangat terbatas.

Gunungkidul yang luas itu hanya memiliki dua pos pemadam kebakaran, masing-masing berada di Wonosari dan Karangmojo.

Dua pos tersebut harus melayani wilayah yang jaraknya saling terpaut jauh, dengan medan perbukitan karst yang sering memperlambat mobilitas petugas saat respons darurat.

“Kondisi ini menjadi alasan kuat mengapa kami menyelenggarakan sosialisasi ini. Tanpa edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat, mustahil kami bisa menekan risiko kebakaran,” ujar Purwono.

Selain minimnya sarana prasarana, Purwono menyoroti belum adanya regulasi yang mengatur secara spesifik pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Kelemahan regulatif ini membuat penindakan dan pengawasan di lapangan tidak berjalan optimal.

Adapun pelaksanaan kegiatan ini berlandaskan sejumlah regulasi, mulai dari PP No. 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal, Permendagri No. 114 Tahun 2018, hingga Perbup Gunungkidul No. 148 Tahun 2021 yang mengatur pembentukan dan tata kerja UPT Pemadam Kebakaran.

Purwono menggarisbawahi bahwa edukasi dan pemberdayaan masyarakat merupakan langkah paling realistis saat kondisi sarana prasarana masih jauh dari ideal.

Ia berharap warga lebih waspada ketika mengenali potensi bahaya kebakaran, mulai dari korsleting listrik, kelalaian penggunaan kompor gas, hingga pembakaran sampah.

Pentingnya Partisipasi Warga

Ia juga menekankan pentingnya partisipasi warga dalam pengawasan sarana pemadam yang terbatas, memperkuat kelompok relawan kebakaran tingkat kalurahan, serta melaporkan cepat setiap aktivitas mencurigakan yang berpotensi memicu api.

“Kami ingin masyarakat menjadi garda pertama. Dengan keterlibatan aktif, angka kejadian kebakaran bisa ditekan secara signifikan,” tegasnya.

Wakil Bupati Joko Parwoto menegaskan bahwa kebakaran masih menjadi ancaman serius yang kerap terabaikan. Ia menyebut bahwa sebagian besar kasus kebakaran sebenarnya bisa dicegah jika kesadaran masyarakat lebih tinggi.

“Kami masih menemukan kasus korsleting listrik, kelalaian kompor gas, dan pembakaran sampah yang tidak terkontrol. Padahal, kebakaran dapat dicegah sejak langkah paling sederhana dilakukan,” ungkapnya.

Ia menyebut bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendirian, terutama ketika waktu tanggap layanan pemadam belum mampu menjangkau seluruh kawasan Gunungkidul secara cepat.

Wilayah yang luas dan akses jalan yang rumit membuat masyarakat harus mengambil peran aktif dalam pencegahan awal.

“Simulasi ini merupakan wujud nyata komitmen kita dalam memberdayakan masyarakat. Kami ingin warga mampu menggunakan APAR, memadamkan api dengan karung basah, serta memahami penanganan dini sebelum petugas tiba,” ujarnya.

Joko juga memberikan apresiasi kepada BPBD, UPT Damkar, serta seluruh pihak yang berperan dalam penyelenggaraan kegiatan.

Menurutnya, keberhasilan tidak diukur dari ramainya peserta, tetapi dari sejauh mana pengetahuan yang dibawa pulang benar-benar diterapkan di rumah masing-masing.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap kegiatan ini dapat menjadi titik balik terbangunnya kesiapsiagaan kolektif masyarakat terhadap ancaman kebakaran. Kesadaran yang tumbuh dari warga akan melengkapi keterbatasan sarana yang ada.

Dengan hanya dua pos damkar yang harus menjaga wilayah seluas Gunungkidul, pemerintah menyadari bahwa kekuatan utama ada pada masyarakat.

Ketika warga sigap sejak awal, penanggulangan kebakaran tidak hanya lebih cepat, tetapi pencegahan juga dapat terjadi sebelum api membesar. (ef linangkung)



Hiburan

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Lifestyle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *